Oleh: jonsar76 | Juli 1, 2010

Menumbuhkan rasa takut kepada Allah

1. Doa
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selalu meminta kepada Allah
agar dijauhkan dari hati yang tidak khusyu’. Dari Zaid bin Arqam
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selalu
berdoa dengan,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ دَعْوَةٍلاَ يُسْتَجَا بُ لَهَا

“Ya Allah! Aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak
bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah
puas, dan doa yang tidak terkabul.” [HR. Muslim]

2. Ilmu
Rasa takut seorang hamba tergantung pada kesempurnaan
ilmunya tentang Allah dan pengetahuannya tentang DzatNya.
Sebagaimana yang dikatakan ulama salaf, “Setiap kali pengenalan
seseorang kepada Allah bertambah, maka bertambahlah kadar
ketakutannya.” Mereka juga berkata, “Puncak ilmu adalah rasa
takut kepada Allah.”

3. Memelihara hati dengan siraman nasihat
Nasihat ada yang berbentuk perbuatan dan ada juga yang berupa
perkataan. Nasihat yang berbentuk perkataan dapat direalisasikan
dengan mendengarkan khutbah, ucapan, atau ungkapan yang
dapat meluluhkan hati. Adapun nasihat yang berbentuk
perbuatan, bisa diupayakan dalam bentuk ziarah kubur,
memandikan mayat, menjenguk orang sakit, merenungkan surga
dan neraka serta perbuatan-perbuatan lainnya (yang dapat
meluluhkan hati, pent).

4. Kebersihan hati dan bertaubat dari dosa-dosa
Dosa yang bertumpuk-tumpuk akan membutakan (hati)! Dosa
merupakan kotoran bagi hati, yang akan menutupinya hingga
mengeras dan berkarat. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Artinya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu
mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” [QS. Al-Mutfaffifin:
14]

Dosa juga akan mengunci mata hati, semoga Allah menyelamatkan
kita semua. Maka dari itu seharusnya seorang muslim segera
bertaubat.

5. Menghindari diri dari banyak tertawa
Sebuah petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia telah
menerangkan tentang hal ini. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
meriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau
bersabda,

“Jangan banyak tertawa! Karena sesungguhnya banyak ketawa
akan mematikan hati!” [HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari
Ibnu Majah dengan sanad jayyid]

6. Tidak menyibukkan diri dengan dunia
Jika hati ini telah dipenuhi kecintaan terhadap dunia, dan
ketergantungan kepadanya maka tidak akan tersisa padanya
bagian untuk akhirat. Maka terjadilah kelalaian terhadap perkara
yang akan menjadi kesuksesannya kelak, dan keselamatannya
yang abadi. Orang yang berakal adalah orang-orang yang
mengambil semua (dunia dan akhirat). Memperhatikan tujuan dan
maksud hidupnya, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat
memalingkannya. Seekor kuda, apabila ada sudah mendekati
tujuan, maka ia akan mengerahkan semua kekuatannya (untuk
berlari agar cepat sampai), sebagaimana yang dikatakan oleh Abu
Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu.

7. Mengingat mati dan alam akhirat
Ini sudah tercakup dalam sebab, memelihara hati dengan nasihat;
dan keadaan para as-Salaf ash-Shalih dalam masalah ini telah
disebutkan sebelumnya.

Sumber: Al-Khasyyah wa al-Buka’, Penulis: Shalih bin Shuwailih al-Hasawi, Edisi Indonesia: Terapi Syar’i Meluluhkan Kerasnya Hati, Penerjemah: Widyan Wahyudi, Penerbit: Darul Haq 2007 M


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: